Sebenernya, dengan hanya membaca preview di belakang cover, udah cukup memberi gambaran cerita film ini. Tapi, ternyata banyak juga yang disembunyikan, sengaja ga di tulis di preview-nya dan membiarkan gue cukup sering bergumam ‘ooh...’ ketika mulai mengetahui satu persatu hal2 yang disembunyikan itu.
Min-joo, diperankan oleh Uhm Ji-won, adalah seorang produser sebuah program ‘jalan-jalan’. Selama perjalanannya, dia selalu bikin jurnal yang nantinya bakal dia kasih buat pacarnya, Choi Hyun-woo (diperankan oleh Yu Ji-tae). Min-joo dan Hyun-woo udah lama pacaran dan bahkan udah bersiap2 untuk menikah.
Suatu hari, Min-joo tewas dalam sebuah mall yang runtuh luluh lantak.
Cerita tiba2 beralih ke saat Hyun-woo udah jadi seorang jaksa sukses tetapi karena suatu kasus, ia dituduh telah melakukan tindakan korupsi. Ketika itu, ia diberi waktu untuk ‘cuti’. Kemudian, ayah Min-joo datang membawa dan memberikan jurnal yang ditulis oleh Min-joo.
Hyu-woo menggunakan waktu cutinya untuk mengunjungi tempat2 yang pernah didatangi Min-joo dan juga tertulis di dalam jurnalnya. Saat itulah, takdir mempertemukan Hyun-woo dengan seseorang yang nggak pernah ia temui sebelumnya.
Film ini, lagi2 memperkuat dugaan gue terhadap keyakinan orang2 Korea kepada sebuah takdir. Iya... sepertinya memang takdirlah yang mempertemukan dua orang yang sama sekali ga punya hubungan apa2.
Buat gue, ceritanya kuat.. meski sedih, tapi kayaknya film ini emang bukan untuk ditangisin, hehehe...
Thursday, February 22, 2007
Wednesday, February 21, 2007
Love Me Not

Moon Geun-yeong main film lagi! Hehehe... gue termasuk seneng ngeliat Moon Geun-yeong, dan ngeliat pertumbuhan serta perkembangannya. Abis, udah liat sejak dia masih kecil, hehehe...
Kali ini peran Geun-yeong memang bukan peran anak kecil lagi, meski juga ga terlalu dewasa2 amat. Ia berperan sebagai Ryu Min, anak konglomerat.
Min punya seorang kakak laki2 bernama Ryu Jin yang dari kecil udah dipisah. Min tinggal dengan ayahnya, sementara Jin tinggal bersama ibunya. Tetapi kemudian ayah dan ibu Min meninggal. Min pun beranggapan Jin juga telah meninggal. Jadilah Min sebagai pewaris tunggal kekayaan ayahnya.
Di dunia lain, hehehe... Julian (diperankan oleh Kim Joo-hyeok) adalah laki2 perlente, playboy, dan hidup dari uang para customer wanitanya. Meski begitu, ia terjerat hutang dan diancam untuk melunasi hutang2nya dalam waktu satu bulan, atau ia akan dibunuh. Ketika ia keluar dari penjara, ia kembali ke dunianya yang hura2 itu.
Ga sengaja, ia nemu sebuah handphone yang lalu ia jadikan handphone-nya.. (dasar.. ini mah pengambil alihan hak milik.. hehe) Tiba2, seorang pengacara sering menghubunginya dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah untuk mendapatkan hak atas warisan yang ditinggalkan oleh seorang ayah. Merasa mendapat kesempatan, ia kemudian berpura2 menajadi anak orang kaya itu. Disitulah ia bertemu dengan Min (yang berarti ia juga harus berpura2 jadi Ryu Jin, kakaknya Min)
Rencana awal sih, Julian ini akan segera membunuh Min untuk mendapatkan seluruh warisan itu supaya ia bisa membayar lunas hutang2nya. Tetapi, sejak menjadi ‘kakak’nya Min yang juga berhati dingin, Julian diam2 malah punya perasaan lain yang ga pernah ia bener2 rasain sebelumnya.
Ujung2nya, diliatin, betapa dunia ini bener2 kecil. Kalo lo perhatiin sejak awal, perhatiin bener2 nama2 tokoh yang muncul, pasti akan ngeh kalo Julian dan Ryu Jin sebenernya malah udah kenal sejak lama dan mereka sahabatan.
Meski tragis, tapi gue tetep masih ga bisa menarik kesimpulan dari ujung endingnya yang ‘dikemas’ bahagia.. hehehe...
Kali ini peran Geun-yeong memang bukan peran anak kecil lagi, meski juga ga terlalu dewasa2 amat. Ia berperan sebagai Ryu Min, anak konglomerat.
Min punya seorang kakak laki2 bernama Ryu Jin yang dari kecil udah dipisah. Min tinggal dengan ayahnya, sementara Jin tinggal bersama ibunya. Tetapi kemudian ayah dan ibu Min meninggal. Min pun beranggapan Jin juga telah meninggal. Jadilah Min sebagai pewaris tunggal kekayaan ayahnya.
Di dunia lain, hehehe... Julian (diperankan oleh Kim Joo-hyeok) adalah laki2 perlente, playboy, dan hidup dari uang para customer wanitanya. Meski begitu, ia terjerat hutang dan diancam untuk melunasi hutang2nya dalam waktu satu bulan, atau ia akan dibunuh. Ketika ia keluar dari penjara, ia kembali ke dunianya yang hura2 itu.
Ga sengaja, ia nemu sebuah handphone yang lalu ia jadikan handphone-nya.. (dasar.. ini mah pengambil alihan hak milik.. hehe) Tiba2, seorang pengacara sering menghubunginya dan menyuruhnya untuk pulang ke rumah untuk mendapatkan hak atas warisan yang ditinggalkan oleh seorang ayah. Merasa mendapat kesempatan, ia kemudian berpura2 menajadi anak orang kaya itu. Disitulah ia bertemu dengan Min (yang berarti ia juga harus berpura2 jadi Ryu Jin, kakaknya Min)
Rencana awal sih, Julian ini akan segera membunuh Min untuk mendapatkan seluruh warisan itu supaya ia bisa membayar lunas hutang2nya. Tetapi, sejak menjadi ‘kakak’nya Min yang juga berhati dingin, Julian diam2 malah punya perasaan lain yang ga pernah ia bener2 rasain sebelumnya.
Ujung2nya, diliatin, betapa dunia ini bener2 kecil. Kalo lo perhatiin sejak awal, perhatiin bener2 nama2 tokoh yang muncul, pasti akan ngeh kalo Julian dan Ryu Jin sebenernya malah udah kenal sejak lama dan mereka sahabatan.
Meski tragis, tapi gue tetep masih ga bisa menarik kesimpulan dari ujung endingnya yang ‘dikemas’ bahagia.. hehehe...
Monday, February 12, 2007
A Cruel Attendance

Sebelumnya, mau bilang makasih dulu nih buat mellisa yang udah minjemin film ini dan Maundy Thursday-nya... Hasrat untuk menonton film2 baru AKHIRNYA terpenuhi juga!
Baiklaah... ini adalah film yang gue tonton setelah nonton Maundy Thursday. Setelah bertangisan dan bersedih hati, gue kira film ini bisa bikin suasana hati lebih baik (karena gue pikir ini ada unsur komedinya), tapi ternyata gue salah..hehe
Lagi2, gue terjebak dengan cover-nya.. (oh, siapa sih yang nyiptain ‘Don’t Judge a Book By Its Cover’) karena cover-nya terkesan komedi.
Dong-chul (diperankan oleh Kim Soo-ro) adalah laki-laki biasa, tipikal karyawan biasa, yang juga merupakan ayah yang disayang, dan suami yang dibanggakan. Tapi ternyata Dong-chul punya rahasia yang udah ia simpan sejak usahanya bangkrut. Ia terpaksa pinjam sejumlah uang ke rentenir kelas kakap demi tetap menjaga keluarganya. Ternyata, ia malah terjebak dengan situasi dimana partner kerjanya malah berinisiatif untuk menculik anak untuk mendapatkan banyak uang (anaknya sebagai jaminan, red.)
Awalnya Dong-chul ga kepengen bisnis begitu, tapi ternyata terlanjur sudah. Anak kecil pertama yang diculiknya ternyata orang tuanya sama sekali ga bisa dihubungi. Sampe anak itu jatuh sakit, Dong-chul dan Man-ho (partnernya itu, diperankan oleh Lee Seon-gyeon) terpaksa men-drop anak itu di rumah sakit dan meninggalkannya begitu aja.
Bukannya kapok, dua orang ini terus menjalankan aksinya demi dapat membayar rentenir itu tepat waktu. Mereka menculik anak SMA bernama Tae-hee. Tae-hee disekap (tapi tetap diperlakukan baik) dan dua orang itu mulai menjalankan rencananya. Mereka menelpon ayah Tae-hee yang ternyata tajir berat. Sayangnya, ayah Tae-hee ga semudah itu percaya terhadap ucapan penculik Tae-hee.
Ditengah2 itu, Dong-chul malah dikejutkan dengan sebuah telpon dari seorang misterius yang menculik anaknya sendiri! Dong-chul kalang kabut. Di satu sisi, ia butuh banget uang tebusan dari ayah Tae-hee (yang sulit ditaklukan, udah gitu kerjasama dengan polisi pula), dan di sisi lain ia harus segera menyelamatkan putri kesayangannya bernama Eundong. Ga main2, penculik Eundong minta sejumlah uang yang buanyaak banget buat tebusannya.
Film ini meski dengan jelas menunjukkan kriminalitas seseorang, tapi rasa ‘manusiawi’-nya kentara banget. Gimana perjuangan seorang ayah demi menyelamatkan putrinya, gimana orang2 begitu mendewakan uang, dan gimana juga seorang manusia diperlihatkan rasa dendam yang manusiawi. Bagus... oke... dan ... unpredictable!
Baiklaah... ini adalah film yang gue tonton setelah nonton Maundy Thursday. Setelah bertangisan dan bersedih hati, gue kira film ini bisa bikin suasana hati lebih baik (karena gue pikir ini ada unsur komedinya), tapi ternyata gue salah..hehe
Lagi2, gue terjebak dengan cover-nya.. (oh, siapa sih yang nyiptain ‘Don’t Judge a Book By Its Cover’) karena cover-nya terkesan komedi.
Dong-chul (diperankan oleh Kim Soo-ro) adalah laki-laki biasa, tipikal karyawan biasa, yang juga merupakan ayah yang disayang, dan suami yang dibanggakan. Tapi ternyata Dong-chul punya rahasia yang udah ia simpan sejak usahanya bangkrut. Ia terpaksa pinjam sejumlah uang ke rentenir kelas kakap demi tetap menjaga keluarganya. Ternyata, ia malah terjebak dengan situasi dimana partner kerjanya malah berinisiatif untuk menculik anak untuk mendapatkan banyak uang (anaknya sebagai jaminan, red.)
Awalnya Dong-chul ga kepengen bisnis begitu, tapi ternyata terlanjur sudah. Anak kecil pertama yang diculiknya ternyata orang tuanya sama sekali ga bisa dihubungi. Sampe anak itu jatuh sakit, Dong-chul dan Man-ho (partnernya itu, diperankan oleh Lee Seon-gyeon) terpaksa men-drop anak itu di rumah sakit dan meninggalkannya begitu aja.
Bukannya kapok, dua orang ini terus menjalankan aksinya demi dapat membayar rentenir itu tepat waktu. Mereka menculik anak SMA bernama Tae-hee. Tae-hee disekap (tapi tetap diperlakukan baik) dan dua orang itu mulai menjalankan rencananya. Mereka menelpon ayah Tae-hee yang ternyata tajir berat. Sayangnya, ayah Tae-hee ga semudah itu percaya terhadap ucapan penculik Tae-hee.
Ditengah2 itu, Dong-chul malah dikejutkan dengan sebuah telpon dari seorang misterius yang menculik anaknya sendiri! Dong-chul kalang kabut. Di satu sisi, ia butuh banget uang tebusan dari ayah Tae-hee (yang sulit ditaklukan, udah gitu kerjasama dengan polisi pula), dan di sisi lain ia harus segera menyelamatkan putri kesayangannya bernama Eundong. Ga main2, penculik Eundong minta sejumlah uang yang buanyaak banget buat tebusannya.
Film ini meski dengan jelas menunjukkan kriminalitas seseorang, tapi rasa ‘manusiawi’-nya kentara banget. Gimana perjuangan seorang ayah demi menyelamatkan putrinya, gimana orang2 begitu mendewakan uang, dan gimana juga seorang manusia diperlihatkan rasa dendam yang manusiawi. Bagus... oke... dan ... unpredictable!
Maundy Thursday a.k.a Our Happy Time

Bisa dibilang, inilah film Kang Dong Won yang paling gue tunggu2! Iya, dari covernya (yang gue liat dari http://www.hancinema.com/) gue udah feeling banget kalo film ini oke punya! Udah gitu, dari cover-nya pula, Kang Dong Won-nya terlihat kece berat!! Huehehehehe...
Walhasil, gue dapet pinjeman film ini dari Mellissa (makasi ya, mel!!) dan bener kata mel, ini film yang menguras air mata! Hixxx..
Bgini... tebakan gue begitu pertama kali liat covernya, gue pikir ini adalah romantic heart-breaking movie karena pasti akan ada yang meninggal (dan tebakan gue lagi, meninggal karena sakit parah..) well, tau2nya, ini adalah film dengan ide oke, eksekusi gila plus berani, dan jauh dari dugaan awal gue. Hm, ga segitu jauh juga siih..
Kang Dong Won disini bermain sebagai Jeong Yun-soo, seorang cowok dengan latar belakang pengalaman hidup yang serba susah, pahit, menyakitkan, dan berakhir dengan kenyataan bahwa ia adalah salah satu dari terpidana mati.
Suatu hari, Yun-soo dipertemukan oleh Suster Monica, biarawati yang biasa menangani masalah spiritual narapidana di penjara, dengan keponakannya bernama Moon Yu-jeong (diperankan oleh Lee Na-young). Yu-jeong adalah seorang cewek yang udah tiga kali melakukan percobaan bunuh diri karena suatu hal yang dipendamnya bertahun-tahun.
Alasan Suster Monica mempertemukan Yun-soo dengan Yu-jeong adalah karena Yun-soo (dulunya) penggemar Yu-jeong (karena dulunya Yu-jeong adalah penyanyi lagu kebangsaan di sebuah event negara). Suster Monica ternyata ga salah mempertemukan mereka. Karena dari pertemuan2 mereka itulah (yang selalu diadakan di hari kamis), mereka jadi terbuka satu sama lain dan dari situ mereka mulai membuka hati mereka, menjalani sisa waktu yang ada meski punya catatan masa lalu yang gelap.
Meski sering nonton film yang penuh kekerasan, dan juga pernah nonton film horror, tapi gue ga nyangka, drama ini ternyata bisa bikin merinding juga. Hebat! Sutradaranya hebat dan berani menuntun feeling penontonnya dan membangunnya sejak scene awal.
Gue bener2 ga bisa sok2 tegar nonton film ini... ujung2nya, air mata leleh juga... meski dari awal sebenernya ada beberapa scene yang udah bikin tenggorokan tercekat! Mwehehehe...
Walhasil, gue dapet pinjeman film ini dari Mellissa (makasi ya, mel!!) dan bener kata mel, ini film yang menguras air mata! Hixxx..
Bgini... tebakan gue begitu pertama kali liat covernya, gue pikir ini adalah romantic heart-breaking movie karena pasti akan ada yang meninggal (dan tebakan gue lagi, meninggal karena sakit parah..) well, tau2nya, ini adalah film dengan ide oke, eksekusi gila plus berani, dan jauh dari dugaan awal gue. Hm, ga segitu jauh juga siih..
Kang Dong Won disini bermain sebagai Jeong Yun-soo, seorang cowok dengan latar belakang pengalaman hidup yang serba susah, pahit, menyakitkan, dan berakhir dengan kenyataan bahwa ia adalah salah satu dari terpidana mati.
Suatu hari, Yun-soo dipertemukan oleh Suster Monica, biarawati yang biasa menangani masalah spiritual narapidana di penjara, dengan keponakannya bernama Moon Yu-jeong (diperankan oleh Lee Na-young). Yu-jeong adalah seorang cewek yang udah tiga kali melakukan percobaan bunuh diri karena suatu hal yang dipendamnya bertahun-tahun.
Alasan Suster Monica mempertemukan Yun-soo dengan Yu-jeong adalah karena Yun-soo (dulunya) penggemar Yu-jeong (karena dulunya Yu-jeong adalah penyanyi lagu kebangsaan di sebuah event negara). Suster Monica ternyata ga salah mempertemukan mereka. Karena dari pertemuan2 mereka itulah (yang selalu diadakan di hari kamis), mereka jadi terbuka satu sama lain dan dari situ mereka mulai membuka hati mereka, menjalani sisa waktu yang ada meski punya catatan masa lalu yang gelap.
Meski sering nonton film yang penuh kekerasan, dan juga pernah nonton film horror, tapi gue ga nyangka, drama ini ternyata bisa bikin merinding juga. Hebat! Sutradaranya hebat dan berani menuntun feeling penontonnya dan membangunnya sejak scene awal.
Gue bener2 ga bisa sok2 tegar nonton film ini... ujung2nya, air mata leleh juga... meski dari awal sebenernya ada beberapa scene yang udah bikin tenggorokan tercekat! Mwehehehe...
Monday, February 5, 2007
Beast and The Beauty

Jarang gue menemukan drama Korea yang lebih berat ke unsur komedinya, yang bener2 lucu.. tapi film ini ternyata berhasil membuktikan sense of humor orang Korea yang ternyata sangat menghibur!
Kisah tentang si cantik dan si buruk rupa emang udah ada sejak dulu. Tapi dalam cerita yang satu ini, bisa bercerita jujur dan lepas serta lebih berperasaan tentang kisah cinta antara si cantik dan si buruk rupa.
Hae Ju (diperankan oleh Shin Min Ah) adalah perempuan yang menarik, cantik, baik dan penuh semangat meskipun ia kehilangan pengelihatannya. Selama tiga tahun, Hae Ju menjalin hubungan bersama Don Gun (diperankan oleh Ryu Seung Bum). Dong Gun adalah seorang pacar yang setia, penuh perhatian, lucu, dan menjadi sumber semangat bagi Hae Ju.
Ketika Hae Ju dapet berita baik bahwa akan ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya untuknya, Dong Gun jadi panik dan dilemma. Ia sadar, ia ga memiliki penampilan baik. Ia sadar ia ga ganteng, dan karena selama ini Hae Ju ga bisa melihat, ia ga terlalu minder. Namun ketika Hae Ju akan bisa melihat lagi, Dong Gun takut akan mengecewakan Hae Ju karena penampilan fisiknya.
Sebenernya sih si Dong Gun ini ga jelek2 amat, tapi karena di perparah dengan bekas luka di wajahnya, jadi yah... emang sdikit nyeremin sih...
Untuk menyelamatkan hubungan mereka, Dong Gun terpaksa berbohong pada Hae Ju. Dong Gun meninggalkan pesan untukHae Ju bahwa ia telah pergi ke Hawaii. Selama masa2 kebohongan ini, Dong Gun tetap mengawasi Hae Ju dari ‘kejauhan’.
Ketika ada seorang pengacara muda ganteng yang mendekati Hae Ju bernama Jun Ha, Dong Gun mulai tambah panik. Meski Hae Ju bilang, ia akan terus menunggu sampai Dong Gun ‘kembali’, tapi yang jadi masalah adalah, apakah Hae Ju akan bisa menerima kebohongan yang telah sengaja dibuat oleh Dong Gun dan kenyataan bahwa fisiknya ga ganteng?
Di cover ini sih, Korean Movie ngasih empat bintang, dan Korean Report bilang “...Laugh Till Drop...” Kalo menurut gue, mereka ngasih review yang sangat sesuai dengan filmnya!
Kisah tentang si cantik dan si buruk rupa emang udah ada sejak dulu. Tapi dalam cerita yang satu ini, bisa bercerita jujur dan lepas serta lebih berperasaan tentang kisah cinta antara si cantik dan si buruk rupa.
Hae Ju (diperankan oleh Shin Min Ah) adalah perempuan yang menarik, cantik, baik dan penuh semangat meskipun ia kehilangan pengelihatannya. Selama tiga tahun, Hae Ju menjalin hubungan bersama Don Gun (diperankan oleh Ryu Seung Bum). Dong Gun adalah seorang pacar yang setia, penuh perhatian, lucu, dan menjadi sumber semangat bagi Hae Ju.
Ketika Hae Ju dapet berita baik bahwa akan ada seseorang yang bersedia mendonorkan matanya untuknya, Dong Gun jadi panik dan dilemma. Ia sadar, ia ga memiliki penampilan baik. Ia sadar ia ga ganteng, dan karena selama ini Hae Ju ga bisa melihat, ia ga terlalu minder. Namun ketika Hae Ju akan bisa melihat lagi, Dong Gun takut akan mengecewakan Hae Ju karena penampilan fisiknya.
Sebenernya sih si Dong Gun ini ga jelek2 amat, tapi karena di perparah dengan bekas luka di wajahnya, jadi yah... emang sdikit nyeremin sih...
Untuk menyelamatkan hubungan mereka, Dong Gun terpaksa berbohong pada Hae Ju. Dong Gun meninggalkan pesan untukHae Ju bahwa ia telah pergi ke Hawaii. Selama masa2 kebohongan ini, Dong Gun tetap mengawasi Hae Ju dari ‘kejauhan’.
Ketika ada seorang pengacara muda ganteng yang mendekati Hae Ju bernama Jun Ha, Dong Gun mulai tambah panik. Meski Hae Ju bilang, ia akan terus menunggu sampai Dong Gun ‘kembali’, tapi yang jadi masalah adalah, apakah Hae Ju akan bisa menerima kebohongan yang telah sengaja dibuat oleh Dong Gun dan kenyataan bahwa fisiknya ga ganteng?
Di cover ini sih, Korean Movie ngasih empat bintang, dan Korean Report bilang “...Laugh Till Drop...” Kalo menurut gue, mereka ngasih review yang sangat sesuai dengan filmnya!
Spring Bears Love

Lagi2 gue mereview film yang bukan film baru. Maaf ya, belum belanja film2 baru lagi nih... tapi gue merasa punya tanggung jawab untuk meng-update terus blog ini. Jadilah gue mereview film yang satu ini.
Judulnya Spring Bears Love. Sejujurnya, gue antara kagum sama bingung dengan film ini. Kagum, karena meski benang merah ceritanya jelas, tapi sang penulis cerita bisa banget masukin ide yang ga biasa dan sutradara juga pinter banget memvisualisasikan ide ga biasa itu dengan cukup membuat penontonnya sedikit bingung. Menurut bahasa gue, inilah film yang unik dan aneh. Hhehehehe...
Gimana kalo ketika lo meminjam sebuah buku dari pespustakaan, lo menemukan sebuah tulisan (baca: pesan) yang sepertinya ditujukan buat lo? Pasti lo penasaran banget kan jadinya? Begitu juga yang dialami oleh Hyun Chae (diperankan oleh Bae Du Na).
Sebuah pesan berbunyi, “You’re as cute as a little bear awaked from hibernation. I Just started to love you...” tiba2 bikin kepalanya penuh pertanyaan. Hyun Chae memiliki karakter yang kuat dan cukup sulit. Tapi menurut gue, Bae Du Na berhasil membawakan karakter itu dengan baik. Hyun Chae diceritakan sebagai seorang cewek yang bekerja sebagai kasir di supermarket. Dalam pencariannya atas seseorang misterius yang menuliskan pesan2 di buku, dia malah bertemu kembali dengan teman lamanya, Dong Ha (diperankan oleh Kim Nam Jin). Dong Ha memang secara terang2an memperlihatkan rasa sukanya kepada Hyun Chae, tapi sayangnya Hyun Chae ga merasakan begitu.
Gue (seperti biasa) ga kepengen ngebocorin ending ceritanya... tapi yang jelas, akhirnya antara kenyataan dan imajinasi memang berbeda. Gue sih salut sama tokoh Dong Ha. Sebagai cowok yang naksir abis2an sama seorang cowok, dia berjuang! Hehehehe.... sampe terharu deh pas adegan si Dong Ha bawain panci, kompor kecil, dan sebungkus ramyeon* trus ngebawain ke rumahnya Hyun Chae (karena sebelumnya si Hyun Chae udah bilang lagi kepengen makan ramyeon) trus masak bareng di depan pintu rumah Hyun Chae. Hihiihi...
*ramyeon : mie instant ala Korea.
Judulnya Spring Bears Love. Sejujurnya, gue antara kagum sama bingung dengan film ini. Kagum, karena meski benang merah ceritanya jelas, tapi sang penulis cerita bisa banget masukin ide yang ga biasa dan sutradara juga pinter banget memvisualisasikan ide ga biasa itu dengan cukup membuat penontonnya sedikit bingung. Menurut bahasa gue, inilah film yang unik dan aneh. Hhehehehe...
Gimana kalo ketika lo meminjam sebuah buku dari pespustakaan, lo menemukan sebuah tulisan (baca: pesan) yang sepertinya ditujukan buat lo? Pasti lo penasaran banget kan jadinya? Begitu juga yang dialami oleh Hyun Chae (diperankan oleh Bae Du Na).
Sebuah pesan berbunyi, “You’re as cute as a little bear awaked from hibernation. I Just started to love you...” tiba2 bikin kepalanya penuh pertanyaan. Hyun Chae memiliki karakter yang kuat dan cukup sulit. Tapi menurut gue, Bae Du Na berhasil membawakan karakter itu dengan baik. Hyun Chae diceritakan sebagai seorang cewek yang bekerja sebagai kasir di supermarket. Dalam pencariannya atas seseorang misterius yang menuliskan pesan2 di buku, dia malah bertemu kembali dengan teman lamanya, Dong Ha (diperankan oleh Kim Nam Jin). Dong Ha memang secara terang2an memperlihatkan rasa sukanya kepada Hyun Chae, tapi sayangnya Hyun Chae ga merasakan begitu.
Gue (seperti biasa) ga kepengen ngebocorin ending ceritanya... tapi yang jelas, akhirnya antara kenyataan dan imajinasi memang berbeda. Gue sih salut sama tokoh Dong Ha. Sebagai cowok yang naksir abis2an sama seorang cowok, dia berjuang! Hehehehe.... sampe terharu deh pas adegan si Dong Ha bawain panci, kompor kecil, dan sebungkus ramyeon* trus ngebawain ke rumahnya Hyun Chae (karena sebelumnya si Hyun Chae udah bilang lagi kepengen makan ramyeon) trus masak bareng di depan pintu rumah Hyun Chae. Hihiihi...
*ramyeon : mie instant ala Korea.
Fly Daddy Fly

Fly Daddy, Fly.. sebenernya film ini gue beli bareng2 dengan film2 laen yang gue borong waktu kalap abis selese uas, hehe. Alesan utamanya adalah karena salah satu pemain utamanya adalah Lee Joon-ki, seorang roockie yang bermain sangat oke.
Film ini gue tinggalin gitu aja, maksudnya, gue simpen dulu, sementara gue nonton film lain yang gue pikir lebih oke.
Akhirnya, baru aja gue selese nonton Fly Daddy Fly. Selama perjalanan film, gue senyam-senyum, ketawa geli, terhenyak terharu, sampe melotot kagum karena fighting scene-nya keren. Agak sulit menjelaskan genre film ini. Drama tapi laga tapi komedi.
Ceritanya begini… seorang bapak biasa bernama Go Pil (yang akhirnya dipanggil Jjang) yang diperankan oleh Lee Moon Shik merasa ‘ga berguna’ karena ga bisa melindungi anak perempuannya yang mengalami kekerasan oleh siswa laki2 bernama Tae Wok. (Banci banget tuh cowo, mukulin cewe sampe babak belur…). Tae Wok yang mukulin anaknya itu udah dateng ke rumah sakit untuk ‘minta maaf’ dengan seadanya, dan keesokannya memberi uang simpati buat bapak itu. Merasa dilecehkan, si bapak dateng ke sekolah Tae Wok sambil bawa pisau.
Bukannya ketemu Tae Wok, dia malah di pukul sama siswa cowo lain bernama Seung Sok (Lee Joon-ki). Seung Sok ga bermaksud jahat, dia malah bingung kenapa bapak ini pake bawa2 pisau segala kalau mau ngadepin Tae Wok (yang ternyata jawara boxing). Akhirnya, dengan dorongan temen2 Seung Sok, si bapak pun mengikuti training. Trainer-nya ya, si Seung Sok itu. Bapak ini usaha mati2an, latihan sampe babak belur demi untuk membalas perbuatan Tae Wok di ring boxing.
Bagi Seung Sok, usahanya dalam melatih bapak ini ga lain adalah karena ia, yang dari kecil udah di tinggal bapaknya kabur, berharap suatu saat nanti, bapak ini akan jadi pelindungnya.
Mengharukan, bagaimana seorang jagoan berantem ternyata punya trauma yang begitu besar, dan masih mencari sosok ayah sebagai pelindungnya.
Bapak ini akhrinya naik ring untuk menghadapi Tae Wok. Sampe titik darah penghabisan, bapak ini akhirnya bisa memberikan pelajaran sekaligus memberikan hukuman setimpal bagi Tae Wok.
Dan akhirnya, Seung Sok (yang sebenernya udah lama pengen manggil si bapak dengan sebutan ’Daddy’) kesampean juga manggil bapak ini keras2 ”Dadddddyyyyy!!!”
Nine-tailed Fox / Forbidden Love

Rasanya ga afdhal kalo blog ini ga ada nama artis korea kesayangan gue, Jo Hyun Jae, hehehehehe...
Nine-tailed Fox ini bukan film Hyun Jae pertama yang gue liat. Pertama kali naksir Hyun Jae lewat serial Sunshine of Love, dia main bareng Song Hye Kyo. Meski di Korea sana, Sunshine of Love ga terlalu terkenal, tapi entah kenapa gue sukaaaa....banget! Begitu juga sama Only You dimana Hyun Jae main bareng Han Chae Young dan Love Letter (main bareng Jo Eun Ha) yang lagi2 bikin gue ‘nagih’, terus2an memburu film2 Hyun Jae.
Nah, di Nine-tailed Fox ini, Hyun Jae mencoba mengambil peran yang beda. Dia berperan sebagai seorang detektif bernama Kang Min Woo yang sedang menyelidiki kasus jual beli organ tubuh illegal.
Yoon Shi Yeon (diperankan oleh Kim Tae Hee) adalah salah satu dari keturunan Nine-tailed Fox. Kalau siang, Shi Yeon bekerja sebagai seorang karyawan di museum. Tapi kalau malam, ia adalah seorang ksatria perempuan nomor satu dalam Nine-tailed Fox Clan. Ia bertugas menjaga keseimbangan antara manusia dan manusia-serigala. Kemudian tugasnya ini jadi berubah ketika terjadi serangkaian pembunuhan dimana korbannya selalu ditemukan dalam kondisi tidak lagi memiliki liver alias, dadanya terkoyak dan livernya diambil. Serangkaian pembunuhan ini mulai terendus oleh detektif Min Woo dan ia yakin betul bahwa kasus jual beli organ tubuh secara illegal yang sedang ia usut berhubungan erat dengan pembunuhan sadis tersebut.
Meski agak horor, tapi serial ini masih berbumbu drama romantis lho... ternyata, eh, ternyata..Shi Won adalah cinta pertamanya Min Woo yang slama ini terus2an dia inget. Sayang, chemistry antara Hyun Jae dan Tae Hee kurang greget... masih kaku banget... (emang ga jodoh kali ya?) beda deh sama waktu Hyun Jae main bareng Hye Kyo, Chae Young, dan Eun Ha.
Tapi.... Hyun Jae disini kasep pisan!!! Kalo selama ini perannya selalu sebagai anak baik2, ga bisa berantem, anak orang kaya... tapi kalo disini dia cowok banget! Hahahaha.... rambutnya jadi cepak... tambah lucu...lebih intelek... badannya jadi, dan ternyata bisa berantem lho dia! Hehe.
Drama ini memang lain dari yang lain. Sementara yang lain masih sibuk memproduksi tema cinta yang begitu2 aja, kali ini cinta justru hanya sebagai bumbu pelengkap aja. Cukup buat menetralkan isi kepala gue yang udah mulai jenuh dengan drama cinta ala Korea, karena unsur2 mistik, legenda, action, dan horor plus cinta2an itu, melebur jadi satu. Lumayan deh buat penyegaran. Ya iyalaah tambah seger, lha kan Jo Hyun Jae-nya tambah ganteng! Hihihiihihi...
Nine-tailed Fox ini bukan film Hyun Jae pertama yang gue liat. Pertama kali naksir Hyun Jae lewat serial Sunshine of Love, dia main bareng Song Hye Kyo. Meski di Korea sana, Sunshine of Love ga terlalu terkenal, tapi entah kenapa gue sukaaaa....banget! Begitu juga sama Only You dimana Hyun Jae main bareng Han Chae Young dan Love Letter (main bareng Jo Eun Ha) yang lagi2 bikin gue ‘nagih’, terus2an memburu film2 Hyun Jae.
Nah, di Nine-tailed Fox ini, Hyun Jae mencoba mengambil peran yang beda. Dia berperan sebagai seorang detektif bernama Kang Min Woo yang sedang menyelidiki kasus jual beli organ tubuh illegal.
Yoon Shi Yeon (diperankan oleh Kim Tae Hee) adalah salah satu dari keturunan Nine-tailed Fox. Kalau siang, Shi Yeon bekerja sebagai seorang karyawan di museum. Tapi kalau malam, ia adalah seorang ksatria perempuan nomor satu dalam Nine-tailed Fox Clan. Ia bertugas menjaga keseimbangan antara manusia dan manusia-serigala. Kemudian tugasnya ini jadi berubah ketika terjadi serangkaian pembunuhan dimana korbannya selalu ditemukan dalam kondisi tidak lagi memiliki liver alias, dadanya terkoyak dan livernya diambil. Serangkaian pembunuhan ini mulai terendus oleh detektif Min Woo dan ia yakin betul bahwa kasus jual beli organ tubuh secara illegal yang sedang ia usut berhubungan erat dengan pembunuhan sadis tersebut.
Meski agak horor, tapi serial ini masih berbumbu drama romantis lho... ternyata, eh, ternyata..Shi Won adalah cinta pertamanya Min Woo yang slama ini terus2an dia inget. Sayang, chemistry antara Hyun Jae dan Tae Hee kurang greget... masih kaku banget... (emang ga jodoh kali ya?) beda deh sama waktu Hyun Jae main bareng Hye Kyo, Chae Young, dan Eun Ha.
Tapi.... Hyun Jae disini kasep pisan!!! Kalo selama ini perannya selalu sebagai anak baik2, ga bisa berantem, anak orang kaya... tapi kalo disini dia cowok banget! Hahahaha.... rambutnya jadi cepak... tambah lucu...lebih intelek... badannya jadi, dan ternyata bisa berantem lho dia! Hehe.
Drama ini memang lain dari yang lain. Sementara yang lain masih sibuk memproduksi tema cinta yang begitu2 aja, kali ini cinta justru hanya sebagai bumbu pelengkap aja. Cukup buat menetralkan isi kepala gue yang udah mulai jenuh dengan drama cinta ala Korea, karena unsur2 mistik, legenda, action, dan horor plus cinta2an itu, melebur jadi satu. Lumayan deh buat penyegaran. Ya iyalaah tambah seger, lha kan Jo Hyun Jae-nya tambah ganteng! Hihihiihihi...
Romance of Their Own

Kalo cari artikel tentang film ini di internet (Google, Yahoo, etc..) agak sulit karena judulnya banyak dan ga tau mana judul yang sebener-benernya, hehehe. Selain berjudul Romance of Their Own, ada juga yang ngasi judul A Wolf’s Attraction...ada juga judul koreanya.. 늑대의 유혹 (baca: Neukde-ye yuhok) yang nggak gue tau artinya. Tapi, berhubung di covernya ada cowo lucu bernama Kang Dong Won, maka terbelilah film ini.
Oh, FYI, sebenernya ini film lama, dan gue udah lama juga nontonnya, tapi berhubung blog ini baru ada, jadi gue tulis aja yah..
Okee... biasanya, sebelum gue nonton, gue selalu baca review di balik covernya. Tapi review-nya ga cukup bikin gue tau seluruh cerita. Bahkan lagi nonton aja gue masih kaget2.
Cerita dimulai ketika Han Kyung (diperankan oleh Lee Cheong), seorang cewek dari desa, pindah ke Seoul untuk tinggal bareng ibunya (yang sebenernya udah punya keluarga baru, alias sudah menikah lagi) Kepindahannya ke Seoul ternyata mempertemukannya dengan dua orang cowok populer yang langsung sama2 naksir sama Han Kyung.
Bae Hae Won (diperankan oleh Jo Han Seon), adalah salah satu jagoan sekolah yang langsung tertarik sama Han Kyung begitu mereka pertama kali ketemu di bus. Sementara, Jung Tae Song (diperankan oleh Kang Dong Won), juga primadona sekolah, langsung mengenali Han Kyung ketika pertama kali ketemu ga sengaja pas ujan2an dan dia sebenernya lagi dikejar2 sama orang2 di tengah jalan. Tae Song langsung manggil Han Kyung dengan sebutan Nuna (artinya kakak cewek) karena yakin Han Kyung adalah orang yang sama yang ia temui waktu mereka kecil, bertahun2 yang lalu.
Meski sama2 naksir sama Han Kyung, tapi ketika Hae Won udah lebih duluan ‘merebut’ Han Kyung, Tae Song seperti ga punya harapan lagi dan enggan untuk mengambil langkah2 lebih lanjut.
Ketika sebuah rahasia besar terbuka, dan ketika cinta yang ngga seharusnya muncul malah muncul, semua jadi tambah rumit. Apalagi ketika secara tiba2 Tae Song pergi ke luar negri dan tidak pulang lagi....
Ketiga aktor di film ini masih muda2 lho, tapi soal akting, ajegilaaaa... Baim Wong doang mah lewat! Hahahaha... Gara2 kagum sama akting Kang Dong Won di film ini, gue langsung berburu serial dan film2 yang ada Kang Dong Won-nya! Hihi..
Kalo gue nonton film sedih yang bisa bikin gue ikut sedih mah biasa. Tapi kalo gue sampe berasa ikutan kehilangan... itu baru luar biasa! This sad movie is my all-time favorite!!
Oh, FYI, sebenernya ini film lama, dan gue udah lama juga nontonnya, tapi berhubung blog ini baru ada, jadi gue tulis aja yah..
Okee... biasanya, sebelum gue nonton, gue selalu baca review di balik covernya. Tapi review-nya ga cukup bikin gue tau seluruh cerita. Bahkan lagi nonton aja gue masih kaget2.
Cerita dimulai ketika Han Kyung (diperankan oleh Lee Cheong), seorang cewek dari desa, pindah ke Seoul untuk tinggal bareng ibunya (yang sebenernya udah punya keluarga baru, alias sudah menikah lagi) Kepindahannya ke Seoul ternyata mempertemukannya dengan dua orang cowok populer yang langsung sama2 naksir sama Han Kyung.
Bae Hae Won (diperankan oleh Jo Han Seon), adalah salah satu jagoan sekolah yang langsung tertarik sama Han Kyung begitu mereka pertama kali ketemu di bus. Sementara, Jung Tae Song (diperankan oleh Kang Dong Won), juga primadona sekolah, langsung mengenali Han Kyung ketika pertama kali ketemu ga sengaja pas ujan2an dan dia sebenernya lagi dikejar2 sama orang2 di tengah jalan. Tae Song langsung manggil Han Kyung dengan sebutan Nuna (artinya kakak cewek) karena yakin Han Kyung adalah orang yang sama yang ia temui waktu mereka kecil, bertahun2 yang lalu.
Meski sama2 naksir sama Han Kyung, tapi ketika Hae Won udah lebih duluan ‘merebut’ Han Kyung, Tae Song seperti ga punya harapan lagi dan enggan untuk mengambil langkah2 lebih lanjut.
Ketika sebuah rahasia besar terbuka, dan ketika cinta yang ngga seharusnya muncul malah muncul, semua jadi tambah rumit. Apalagi ketika secara tiba2 Tae Song pergi ke luar negri dan tidak pulang lagi....
Ketiga aktor di film ini masih muda2 lho, tapi soal akting, ajegilaaaa... Baim Wong doang mah lewat! Hahahaha... Gara2 kagum sama akting Kang Dong Won di film ini, gue langsung berburu serial dan film2 yang ada Kang Dong Won-nya! Hihi..
Kalo gue nonton film sedih yang bisa bikin gue ikut sedih mah biasa. Tapi kalo gue sampe berasa ikutan kehilangan... itu baru luar biasa! This sad movie is my all-time favorite!!
Daddy Long Legs

Film ini diangkat dari manhwa (komik korea) yang originalnya terinspirasi dari sebuah novelnya Jean Webster berjudul sama, Daddy Long Legs.
Di komiknya, cukup bikin penasaran. Apalagi karena gue baru baca satu dari dua jilid komiknya, jadi gue belum sempet tau endingnya kayak apa. Di halaman belakang komik itu, ada insert halaman mengenai shooting film Daddy Long Legs. Langsung aja gue cari film itu.
Ha Ji Won, berperan sebagai seorang gadis polos bernama Cha Young Mi. Sejak menjadi seorang yatim piatu, Young-mi kemudian bertekad akan menjalani apapun kesulitan yang akan dihadapinya dengan tetap menyelesaikan sekolahnya. Suatu saat, seseorang yang ga ia ketahui, membayarkan biaya kuliah Young Mi dan juga sering mengiriminya hadiah. Young Mi tidak pernah tahu siapa orang yang selama ini telah membantunya, sehingga ia menuliskan surat (meski ga bisa dikirim) kepada orang itu yang akhirnya ia namai Khidari Ajeossi (Mr. Long Legs a.k.a Daddy Long Legs)
Setelah lulus sekolah, Young Mi berhasil mewujudkan cita2nya untuk bekerja di salah satu stasiun radio sebagai seorang penulis naskah program. Di tempatnya bekerja itulah, ia bertemu dengan Kim Jun Ho (diperankan oleh Yeon Jung Hoon). Young Mi dan Jun Ho kemudian menjadi dekat. Pada akhirnya, semua pertanyaan Young Mi tentang Daddy Long Legs yang tak pernah ia ketahui akhirnya terjawab sudah.
Meski awalnya agak rumit, tapi cerita ini cukup dalem dan bikin gue ikutan merasa sedih, hehehe... bisa banget nih ngebangun suasananya (apa gue-nya aja ya yang kebawa suasana? Hehe) Apalagi mukanya si Jun Ho (kalo bahasa gue sama Fina) kayak cream... alus, putih, dan menyejukkan... (halaaah...)
Di komiknya, cukup bikin penasaran. Apalagi karena gue baru baca satu dari dua jilid komiknya, jadi gue belum sempet tau endingnya kayak apa. Di halaman belakang komik itu, ada insert halaman mengenai shooting film Daddy Long Legs. Langsung aja gue cari film itu.
Ha Ji Won, berperan sebagai seorang gadis polos bernama Cha Young Mi. Sejak menjadi seorang yatim piatu, Young-mi kemudian bertekad akan menjalani apapun kesulitan yang akan dihadapinya dengan tetap menyelesaikan sekolahnya. Suatu saat, seseorang yang ga ia ketahui, membayarkan biaya kuliah Young Mi dan juga sering mengiriminya hadiah. Young Mi tidak pernah tahu siapa orang yang selama ini telah membantunya, sehingga ia menuliskan surat (meski ga bisa dikirim) kepada orang itu yang akhirnya ia namai Khidari Ajeossi (Mr. Long Legs a.k.a Daddy Long Legs)
Setelah lulus sekolah, Young Mi berhasil mewujudkan cita2nya untuk bekerja di salah satu stasiun radio sebagai seorang penulis naskah program. Di tempatnya bekerja itulah, ia bertemu dengan Kim Jun Ho (diperankan oleh Yeon Jung Hoon). Young Mi dan Jun Ho kemudian menjadi dekat. Pada akhirnya, semua pertanyaan Young Mi tentang Daddy Long Legs yang tak pernah ia ketahui akhirnya terjawab sudah.
Meski awalnya agak rumit, tapi cerita ini cukup dalem dan bikin gue ikutan merasa sedih, hehehe... bisa banget nih ngebangun suasananya (apa gue-nya aja ya yang kebawa suasana? Hehe) Apalagi mukanya si Jun Ho (kalo bahasa gue sama Fina) kayak cream... alus, putih, dan menyejukkan... (halaaah...)
Really Really Like You

Whuah! Akhirnya selese juga nonton serial yang satu ini. Waktu beli bareng “Wedding”, gue lebih memilih untuk nonton Wedding duluan.. (ga tahan, soalnya cowonya lucu dan ternyata so sweeeeeet sekali, ahahahaha…)
Pertama kali nonton.... dua episod pertama.... Membosankan... bikin ngantuk... dan aksen daerah tokoh Yo Bong Sun (Eugene) aneh banget, agak ga biasa di dengar.. Cerita awalnya juga rada datar.. jadilah gue berhenti sampe episod 2. Dua hari kemudian, karena BENER2 GA ADA KERJAAN, gue melanjutkan menonton serial ini. Tau2nyaa.... SERU!
Ahahahaahahaha..... memang, untuk serial Korea, ini terhitung agak banyak episodnya... (sampe 34 episod) tapi ternyata dengan banyaknya episod, bikin sisa libur gue tak sekedar diisi dengan nonton Wisata Kuliner, hahaha..
Serial ini mengangkat banyak konflik yang kompleks. Tapi yang bikin salut adalah, kekompleksan itu dirangkai sedemikian rupa sehingga ga ada konflik yang ‘berdiri sendiri’, muncul lalu hilang begitu aja. Konfliknya juga ga biasa.. didukung juga dengan ‘latar belakang’ yang lain... PASPAMPRES dan Kepresidenan!
Eugene berakting oke banget! Gue bisa langsung lupa sama aktingnya sebagai ibu muda di Wonderful Life. Kalo kata mba Kunti, chemistry antara Eugene dan Ryu Jin dapet banget, gue malah beranggapan sebaliknya... Eugene oke banget main sama Lee Ming Ki!
Banyak kejutan yang muncul di setiap episodenya. Banyak juga muncul masalah2 yang saling terkait. Nonton ini seru! Gue sukaaaa banget sama tokoh Nam Bong Ki yang bandel, berisik, selalu berhasil mencairkan suasana, tetapi ternyata persaannya tipis.. hehe.. Dari awal, kayaknya Bong Sun sama Bong Ki emang udah ditakdirkan berjodoh.. Coba liat di episod Bong Ki kasih boneka beruang yang bisa disambungin ke handphone buat Bong Sun..(hm, agak susah dijelasinnya, mendingan liat sendiri dan rasakan mupengnya! Hahahaha)
Terus juga, yang bikin seneng nonton drama ini, ada dua pemeran pembantu yang ganteng! Ahahaha... mereka adalah Kim Ju Yup (diperankan oleh Ryu Tae Jun) dan Kang Moon Shik (diperankan oleh Yoon Ji Hoo), berperan sebagai temen2nya Bong Ki di kesatuan PASPAMPRES... ayayayayayayy... hihiihihihi....
I Really Really DO like this series!!!
Pertama kali nonton.... dua episod pertama.... Membosankan... bikin ngantuk... dan aksen daerah tokoh Yo Bong Sun (Eugene) aneh banget, agak ga biasa di dengar.. Cerita awalnya juga rada datar.. jadilah gue berhenti sampe episod 2. Dua hari kemudian, karena BENER2 GA ADA KERJAAN, gue melanjutkan menonton serial ini. Tau2nyaa.... SERU!
Ahahahaahahaha..... memang, untuk serial Korea, ini terhitung agak banyak episodnya... (sampe 34 episod) tapi ternyata dengan banyaknya episod, bikin sisa libur gue tak sekedar diisi dengan nonton Wisata Kuliner, hahaha..
Serial ini mengangkat banyak konflik yang kompleks. Tapi yang bikin salut adalah, kekompleksan itu dirangkai sedemikian rupa sehingga ga ada konflik yang ‘berdiri sendiri’, muncul lalu hilang begitu aja. Konfliknya juga ga biasa.. didukung juga dengan ‘latar belakang’ yang lain... PASPAMPRES dan Kepresidenan!
Eugene berakting oke banget! Gue bisa langsung lupa sama aktingnya sebagai ibu muda di Wonderful Life. Kalo kata mba Kunti, chemistry antara Eugene dan Ryu Jin dapet banget, gue malah beranggapan sebaliknya... Eugene oke banget main sama Lee Ming Ki!
Banyak kejutan yang muncul di setiap episodenya. Banyak juga muncul masalah2 yang saling terkait. Nonton ini seru! Gue sukaaaa banget sama tokoh Nam Bong Ki yang bandel, berisik, selalu berhasil mencairkan suasana, tetapi ternyata persaannya tipis.. hehe.. Dari awal, kayaknya Bong Sun sama Bong Ki emang udah ditakdirkan berjodoh.. Coba liat di episod Bong Ki kasih boneka beruang yang bisa disambungin ke handphone buat Bong Sun..(hm, agak susah dijelasinnya, mendingan liat sendiri dan rasakan mupengnya! Hahahaha)
Terus juga, yang bikin seneng nonton drama ini, ada dua pemeran pembantu yang ganteng! Ahahaha... mereka adalah Kim Ju Yup (diperankan oleh Ryu Tae Jun) dan Kang Moon Shik (diperankan oleh Yoon Ji Hoo), berperan sebagai temen2nya Bong Ki di kesatuan PASPAMPRES... ayayayayayayy... hihiihihihi....
I Really Really DO like this series!!!
Wedding

Setelah nonton sepotong adegan di indosiar, meski agak bete karena dubbing-an nya aneh, hehe.. gue langsung sms mba Kunti* untuk segera memesan film itu.
Mba Kunti bilang, “Wedding, nis? Ga oke loh..”
Aaaah… untuk kali ini gue ga mempedulikan orang yg gue percayai untuk urusan film2 korea, hehe..
Dari awal, gue tau, serial ini agak beda. Pertama, biasanya serial drama korea endingnya happily married ever after… tapi untuk serial Wedding ini, justru mengangkat bagaimana sulitnya menjalani kehidupan pernikahan… Berat, emang… sedikit lebih serius dari biasanya.. tapi terasa real sekali.
Dimulai dengan pertemuan pertama Lee Se Na (diperankan oleh Jang Na Ra) dengan Han Seung Woo (diperankan oleh Ryu Shi Won) di sebuah kafe. Pertemuan ini memang direncanakan, alias, mereka bertemu karena dijodohkan.
Se Na dan Seung Woo mulai berkenalan dan mereka mulai menemukan bahwa mereka memiliki latar belakang kehidupan yang sangat berbeda. Se Na adalah seorang cewek dari keluarga kaya, lulus dari jurusan musik, dan bekerja di sebuah gallery. Se Na sangat memperhatikan fashion, hobbi belanja, dan ngerumpi bareng sahabat2 ceweknya. Sementara Seung Woo adalah seorang diplomat muda, sederhana, belum pernah pacaran, dan kaku.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menikah karena merasa ‘segalanya akan menjadi lebih baik setelah menikah’. Seiring berjalannya waktu, pasangan muda ini mulai menghadapi masalah2 kecil yang bikin mereka jadi sering berantem. Segalanya menjadi lebih rumit ketika Se Na menyadari bahwa Seung Woo masih memendam perasaan terhadap sahabatnya sejak kecil, Yun-soo (diperankan oleh Myung Se Bin). Yun Soo sendiri (yang sebenernya juga udah tunangan) juga masih memberikan harapan, meski ia tahu Seung Woo sudah menikah.
Nonton drama ini, jujur aja, kalo liat tingkah laku Seung Woo, gue bisa senyam senyum sendiri. Ryu Shi Won bisa banget memerankan tokoh Seung Woo yang super duper halussss…banget! Iya, gue ga pernah liat peran seorang tokoh dalam film Korea yang bahkan ngomongpun dengan nada rendah dan lembut. Kalo marah juga ga teriak2. Kekikukan yang muncul (karena Seung Woo ceritanya belum pernah pacaran) ketika ia harus berhadapan dengan Se Na, bikin adegan berasa manisss…. Aih, so sweeeet! Hahahahahahaha….
Wah, ngomongin Ryu Shi Won sampe sgini! Bgini, Jang Na Ra pun berakting oke. Dari seorang gadis yang sering senyum, ketawa, dan periang sampe perlahan2 jadi gadis yang sering murung, bahkan nangis mulu..
Ending-nya, cukup enak dilihat. Karena endingnya berupa konklusi dari setiap konflik yang ada dari tokoh2 utamanya…
Seneng deh nonton serial ini... jadi kepikiran untuk....mwahahahahahahahahahah...
*Mba Kunti : pemilik toko DVD/VCD Korea langganan gue
Mba Kunti bilang, “Wedding, nis? Ga oke loh..”
Aaaah… untuk kali ini gue ga mempedulikan orang yg gue percayai untuk urusan film2 korea, hehe..
Dari awal, gue tau, serial ini agak beda. Pertama, biasanya serial drama korea endingnya happily married ever after… tapi untuk serial Wedding ini, justru mengangkat bagaimana sulitnya menjalani kehidupan pernikahan… Berat, emang… sedikit lebih serius dari biasanya.. tapi terasa real sekali.
Dimulai dengan pertemuan pertama Lee Se Na (diperankan oleh Jang Na Ra) dengan Han Seung Woo (diperankan oleh Ryu Shi Won) di sebuah kafe. Pertemuan ini memang direncanakan, alias, mereka bertemu karena dijodohkan.
Se Na dan Seung Woo mulai berkenalan dan mereka mulai menemukan bahwa mereka memiliki latar belakang kehidupan yang sangat berbeda. Se Na adalah seorang cewek dari keluarga kaya, lulus dari jurusan musik, dan bekerja di sebuah gallery. Se Na sangat memperhatikan fashion, hobbi belanja, dan ngerumpi bareng sahabat2 ceweknya. Sementara Seung Woo adalah seorang diplomat muda, sederhana, belum pernah pacaran, dan kaku.
Mereka akhirnya memutuskan untuk menikah karena merasa ‘segalanya akan menjadi lebih baik setelah menikah’. Seiring berjalannya waktu, pasangan muda ini mulai menghadapi masalah2 kecil yang bikin mereka jadi sering berantem. Segalanya menjadi lebih rumit ketika Se Na menyadari bahwa Seung Woo masih memendam perasaan terhadap sahabatnya sejak kecil, Yun-soo (diperankan oleh Myung Se Bin). Yun Soo sendiri (yang sebenernya juga udah tunangan) juga masih memberikan harapan, meski ia tahu Seung Woo sudah menikah.
Nonton drama ini, jujur aja, kalo liat tingkah laku Seung Woo, gue bisa senyam senyum sendiri. Ryu Shi Won bisa banget memerankan tokoh Seung Woo yang super duper halussss…banget! Iya, gue ga pernah liat peran seorang tokoh dalam film Korea yang bahkan ngomongpun dengan nada rendah dan lembut. Kalo marah juga ga teriak2. Kekikukan yang muncul (karena Seung Woo ceritanya belum pernah pacaran) ketika ia harus berhadapan dengan Se Na, bikin adegan berasa manisss…. Aih, so sweeeet! Hahahahahahaha….
Wah, ngomongin Ryu Shi Won sampe sgini! Bgini, Jang Na Ra pun berakting oke. Dari seorang gadis yang sering senyum, ketawa, dan periang sampe perlahan2 jadi gadis yang sering murung, bahkan nangis mulu..
Ending-nya, cukup enak dilihat. Karena endingnya berupa konklusi dari setiap konflik yang ada dari tokoh2 utamanya…
Seneng deh nonton serial ini... jadi kepikiran untuk....mwahahahahahahahahahah...
*Mba Kunti : pemilik toko DVD/VCD Korea langganan gue
The Rainy Day

Daripada film2 aneh nan heboh tapi ujung2nya gue dibuatnya kesal karena ga ngerti ataupun ga nyambung, gue mendingan milih film yang ringan tapi terasa real. Salah satunya adalah film ini.
Seorang single mom bernama Su-jin (diperankan oleh So Yu-jin) harus berjuang keras dalam menjalani hidupnya. Karirnya sebagai seorang model sebuah TV shopping channel cukup membuatnya kerepotan, ditambah lagi ia harus membesarkan anak semata wayangnya yang sudah menginjak usia sebelas tahun bernama Su-an. Su-an ini punya keinginan besar sebagai anak yang tidak lagi punya ayah, yaitu ingin memiliki sesosok ayah dalam hidupnya.
Su-an kemudian sepertinya melihat sosok seorang ayah dalam diri wali kelasnya sendiri bernama Min-ho (diperankan oleh Jung Seong-hwan). Min-ho ini diceritakan sebagai seorang guru pindahan yang sedang mencari sebuah tempat tinggal. Jadilah, Su-an merekomendasikan sebuah tempat tinggal kepada gurunya itu, yang ga lain adalah rumahnya sendiri.
Setelah merasa dekat dengan keluarga kecil itu, Min-ho diam2 naksir sama ibunya Su-an. Ketika Min-ho ingin mengungkapkan segalanya, ia malah ’tak sengaja’ membuka kembali luka lama Su-jin.
Seorang single mom bernama Su-jin (diperankan oleh So Yu-jin) harus berjuang keras dalam menjalani hidupnya. Karirnya sebagai seorang model sebuah TV shopping channel cukup membuatnya kerepotan, ditambah lagi ia harus membesarkan anak semata wayangnya yang sudah menginjak usia sebelas tahun bernama Su-an. Su-an ini punya keinginan besar sebagai anak yang tidak lagi punya ayah, yaitu ingin memiliki sesosok ayah dalam hidupnya.
Su-an kemudian sepertinya melihat sosok seorang ayah dalam diri wali kelasnya sendiri bernama Min-ho (diperankan oleh Jung Seong-hwan). Min-ho ini diceritakan sebagai seorang guru pindahan yang sedang mencari sebuah tempat tinggal. Jadilah, Su-an merekomendasikan sebuah tempat tinggal kepada gurunya itu, yang ga lain adalah rumahnya sendiri.
Setelah merasa dekat dengan keluarga kecil itu, Min-ho diam2 naksir sama ibunya Su-an. Ketika Min-ho ingin mengungkapkan segalanya, ia malah ’tak sengaja’ membuka kembali luka lama Su-jin.
Madeleine

Hm.. lagi2 gue tergoda membeli film karena pemerannya oke punya. Gimana kalo satu film diperankan oleh dua bintang? Ini yang terjadi dalam film Madeleine.
Cho In-sung bermain sebagai Kang Ji-suk__seorang cowok polos dan baik2 saja yang masih kuliah dan sedang menulis buku. Kang Ji-suk ini termasuk kuper karena hobbynya main ke perpus dan buku2 merupakan ’sahabat dekatnya’. Kang Ji-suk ini juga bekerja paruh waktu sebagai pengantar koran setiap pagi.
Suatu hari Ji-suk lewat di depan sebuah salon dan memutuskan untuk memotong rambut gondrongnya. Ternyata kapster yang menanganinya adalah seorang cewek bernama Lee Hee-jin (diperankan oleh Shin Min-ah) yang merupakan teman kelasnya sewaktu di SMP.
Reunian kecil antara dua teman ini berlanjut. Hee-jin yang penuh semangat dan ’lebih berpengalaman’ membuat Ji-suk yang ’penurut’ jadi mau ga mau menuruti ide Hee-jin yang menyarankan mereka berpacaran selama sebulan. Ujungnya, Ji-suk yang awalnya biasa aja malah jadi bener2 suka sama Hee-jin.
Meski ceritanya terbilang tidak terlalu heboh, tapi melihat dua bintang ini main bareng, kayaknya terbayarkan banget!
Satu lagi... coba cari tahu dari mana asal muasal judul “Madeleine“? hahahaha....
Cho In-sung bermain sebagai Kang Ji-suk__seorang cowok polos dan baik2 saja yang masih kuliah dan sedang menulis buku. Kang Ji-suk ini termasuk kuper karena hobbynya main ke perpus dan buku2 merupakan ’sahabat dekatnya’. Kang Ji-suk ini juga bekerja paruh waktu sebagai pengantar koran setiap pagi.
Suatu hari Ji-suk lewat di depan sebuah salon dan memutuskan untuk memotong rambut gondrongnya. Ternyata kapster yang menanganinya adalah seorang cewek bernama Lee Hee-jin (diperankan oleh Shin Min-ah) yang merupakan teman kelasnya sewaktu di SMP.
Reunian kecil antara dua teman ini berlanjut. Hee-jin yang penuh semangat dan ’lebih berpengalaman’ membuat Ji-suk yang ’penurut’ jadi mau ga mau menuruti ide Hee-jin yang menyarankan mereka berpacaran selama sebulan. Ujungnya, Ji-suk yang awalnya biasa aja malah jadi bener2 suka sama Hee-jin.
Meski ceritanya terbilang tidak terlalu heboh, tapi melihat dua bintang ini main bareng, kayaknya terbayarkan banget!
Satu lagi... coba cari tahu dari mana asal muasal judul “Madeleine“? hahahaha....
Heaven's Soldiers

Entah kenapa, dari dulu, gue adalah penggemar film perang. Perang memang tidak berprikemanusiaan. Tetapi dari situlah kita sebenarnya bisa melihat sisi-sisi kemanusiaan yang tersembunyi dalam kekejaman perang. Banyak judul2 film perang yang jadi favorit gue dengan beragam tema. Setelah berkenalan dengan film Korea, gue langsung punya tiga film perang favorit. Salah satunya adalah Heaven’s Soldiers ini.
Bagi Korea Selatan, mereka sampai sekarang masih berada di bawah ancaman perang karena keterpisahannya dengan Korea Utara dan kemauan untuk ’rujuk’ kembali nyatanya tak mudah di wujudkan. Bagi insan perfilman disana, tema Selatan-Utara ini jadi salah satu tema favorit mereka untuk di garap sebagai satu film.
Sebelum nonton Heaven’s Soldiers, gue pernah nonton Welcome to Dongmakgol yang juga bercerita tentang Utara-Selatan yang ’terpaksa’ bekerjasama demi mempertahankan satu kebangsaan mereka. Tetapi, Heaven’s Soldiers ini terasa lebih kepada penggabungan unsur fiktif yang kental, sejarah dan kebanggaan terhadap pahlawan bangsa, serta teknologi yang terlalu canggih.
Cerita dimulai dari rencana Utara yang mau ’nyolong start’ perang duluan dengan menculik salah satu ilmuwan dari Selatan (ilmuwan perempuan ini diperankan oleh Kong Hyo Jin) untuk membantu mereka soal senjata pemusnah massal yang sudah mereka rakit dan mereka simpan. Sebelum sempat sampai ke Utara, prajurit dari Selatan memergoki mereka di atas perahu kecil di tengah sungai di DMZ (Demiliterized Zone). Keadaan mendesak itu membuat prajurit dari Selatan bernama Park Jeong Woo (diperankan oleh Hwang Jung Min) berada dalam satu perahu bersama ilmuwan, serta seorang tentara dari utara bernama Kang Min Gil (diperankan oleh Kim Seung Woo). Sebelum Park Jeong Woo sempat membebaskan ilmuwan itu dari sekapan tentara utara, sebuah comet misterius melintas di atas langit. Siapa yang menyangka, comet misterius itu membawa mereka ke dimensi waktu ratusan tahun yang lalu.
Kedua prajurit dari Utara dan Selatan masih saling ’nyolot2an’ ketika mereka menyadari bahwa mereka terdampar di masa lampau. Sampai ketika mereka bertemu dengan seorang laki-laki muda yang ’biasa’ aja (diperankan oleh Park Joong Hoon). Jeong Woo dan Min Gil akhirnya mengenali lelaki itu sebagai salah satu pahlawan Korea ketika ia masih muda.
Dengan bantuan kedua prajurit ini, laki2 biasa ini berubah menjadi seorang panglima perang yang luar biasa. Ancaman perang kemudian datang dari bangsa Mongol. Panglima ini dan kedua anak buahnya dari masa depan, mulai menyusun strategi. Sementara ilmuwan wanita yang juga terjebak di masa lalu ini berhasil menemukan cara untuk kembali ke masa yang seharusnya.
Live Good

Dalam memlilih film, ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhi keputusan gue untuk menontonnya/nggak. Faktor pendorong gue saat membeli film ini adalah sang aktris yang udah ga diragukan lagi penampilannya. Kim Jeong-eun (pernah main di Lovers in Paris, Princess Lulu, All About Eve, Blossom Again, dan Marrying the Mafia) berperan sebagai Hyun-joo, seorang pekerja dari departemen kesehatan. Hyun-joo bertugas untuk memberi penyuluhan tentang pentingnya memiliki keluarga kecil. Tugas ini diembannya karena pada tahun 1970-an (film ini mengambil setting tahun 70an), angka kelahiran di Korea tinggi sekali sementara tingkat pertumbuhan ekonomi masih rendah. Akibatnya, banyak desa-desa tertinggal yang penduduknya hidup miskin dengan beban anak-anak yang banyak.
Film ini terasa sangat real, karena ada unsur2 kepercayaan turun-temurun yang sama dengan di Indonesia, yaitu, ’Banyak anak, banyak rezeki’. Juga menampilkan kepolosan penduduk yang tidak tahu apa2 tentang alat kontrasepsi tanpa harus terlihat bodoh.
Pada akhirnya, kompleksitas tradisi, profesionalisme, dan mahalnya sebuah janji serta komitmen, ikut menjadi masalah yang diangkat dalam film ini.
Seperti juga program KB kita dulu yang terbilang berhasil (tapi sekarang gaungnya udah menghilang...), Korea pun berhasil menekan angka kelahiran penduduknya. Malah sekarang, ketika mereka sudah maju pesat, program itu berubah haluan menjadi program meningkatkan angka kelahiran, karena penduduk usia produktif untuk masa depan di Korea semakin sedikit. Hmmph... banyak anak salah... sedikit juga salah...
Hyun-joo yang belum pernah menikah, menjadi penyuluh di sebuah desa Yongdu yang miskin. Penduduk setempat awalnya tidak bisa menerima Hyun-joo dan doktrinnya untuk menurunkan angka kelahiran dengan menggunakan alat kontrasepsi demi kehidupan yang lebih layak. Tetapi berkat keuletannya, satu persatu penduduk desa mulai mau mendengarkannya. Dibantu dengan seorang penduduk bernama Suk-gu (diperankan oleh Lee Beom-soo), mereka menggalakkan program “0% Birth Rate Project“ sebagai salah satu pilot project (proyek uji coba) yang langsung diawasi oleh presiden.
Film ini terasa sangat real, karena ada unsur2 kepercayaan turun-temurun yang sama dengan di Indonesia, yaitu, ’Banyak anak, banyak rezeki’. Juga menampilkan kepolosan penduduk yang tidak tahu apa2 tentang alat kontrasepsi tanpa harus terlihat bodoh.
Pada akhirnya, kompleksitas tradisi, profesionalisme, dan mahalnya sebuah janji serta komitmen, ikut menjadi masalah yang diangkat dalam film ini.
Seperti juga program KB kita dulu yang terbilang berhasil (tapi sekarang gaungnya udah menghilang...), Korea pun berhasil menekan angka kelahiran penduduknya. Malah sekarang, ketika mereka sudah maju pesat, program itu berubah haluan menjadi program meningkatkan angka kelahiran, karena penduduk usia produktif untuk masa depan di Korea semakin sedikit. Hmmph... banyak anak salah... sedikit juga salah...
Fly High

Satu lagi film yang promosinya gue liat langsung ketika ada di Korea. Judul koreanya “Saranghanikka, kwenchana...“ (artinya: If it’s love, it’s okay) Di Seoul, promosi film ini gila2an... bisa dibilang, gue berkali2 liat iklan di badan bus, di billboard, dan di tembok stasiun subway yg gede banget. Udah gitu gambarnya provokatif banget sampe akhirnya gue memutuskan untuk mastiin apakah itu film dan apa arti judulnya sama Dain.
Sampe sini, baru ngeh ternyata Fly High yang gue pinjem dari Heidy adalah judul lain dari “Saranghanikka,kwenchana...“ yang gue liat itu.
Film ini di perankan oleh Ji Hyun-woo (baru2 ini terkenal lewat serial ’Over The Rainbow’) sebagai Min-hyeok yang jatuh cinta sama seorang cewe di sekolahnya. Sebenernya ceritanya standar aja, dua orang saling jatuh cinta tetapi ujung2nya mereka dihadapi oleh kenyataan tentang salah satu dari mereka. Karena itulah, film ini di beri judul “Saranghanikka, kwenchana..“ karena, apapun yang terjadi, kalau memang itu cinta, maka semua akan baik2 aja. Akhirnya, ending yang sedih dikemas ‘baik2’ aja sama Kwak Ji Kyun sebagai sutradaranya.
Buat gue, film ini masih kalah kesannya daripada beberapa film sedih yang pernah gue tonton. Terbukti, toh gue ga menitikkan setetes airmatapun..hehehe..
Lump of Sugar

Sewaktu di Korea, gue main2 ke sebuah mal yang ada bioskopnya. Meski ga nonton, tapi gue sempet melihat sebuah ’stage’ kosong dengan background poster film besar dan setting-nya sesuai dengan filmnya. Di stage itu kita boleh berfoto2.. maka, berfotolah gue, sandra, dan Yohan oppa dengan latar belakang poster film ini.
Begitu balik ke Jakarta, gue ketemu dengan dvd film itu dan langsung beli tanpa ragu2 (karena udah dibuat penasaran duluan... lumayan berhasil juga tuh promo dengan photo booth itu!)
Okay, judul film ini adalah Lump of Sugar.
Seorang cewe bernama Si-eun (Im Soo-jung) tumbuh besar bersama seekor kuda milik ibunya yang seorang jockey. Ibunya tewas dalam kecelakaan saat menunggangi kudanya. Si-eun juga turut membantu kuda ibunya itu pada saat melahirkan. Sayang, si ibu kuda tidak bertahan hidup. Anak kuda itu dinamai Cheondong (yang artinya halilintar). Si-eun dan Cheondong tumbuh bersama, dan menjadi sahabat. Ayah Si-eun khawatir anaknya (yang juga bermimpi menjadi seorang jockey) akan bernasib sama seperti istrinya, maka ia menjual Cheondong tanpa sepengetahuan Si-eun.
Si-eun perlahan mewujudkan impiannya menjadi seorang jockey. Ternyata menjadi jockey tidak mudah. Apalagi masih banyak orang yang menyangsikan kemampuan seorang jockey perempuan. Karir Si-eun tidak cemerlang sampai suatu saat ia bertemu kembali dengan Cheondong dan karirnya mulai meningkat bersama sahabat lamanya itu. Si-eun dan Cheondong berlatih dengan keras untuk membuktikan bahwa mereka mampu menjadi yang terbaik.
Meski film ini mengambil tema yang cukup unik, tapi menurut gue, feel-nya kurang dapet. Mungkin karena dunia perkudaan tidak terlalu gue kenal jadi gue ga nge-klik dengan filmnya. Tapi, untuk sesuatu yang segar, boleh juga nonton Lump of Sugar ini.
baru pindahan nih..
Waah... maaf ya… karena blog sebelumnya www.myownreviewsofkoreanmovies agak susah diinget dan terjadi error disana sini, maka gue memutuskan untuk pindah blog... jadi, disini aja, lebih mudah diinget URL-nya... oke??
Selamat membaca!
Cheers!!nnisa
Selamat membaca!
Cheers!!nnisa
Subscribe to:
Posts (Atom)