
Dalam memlilih film, ada beberapa faktor yang ikut mempengaruhi keputusan gue untuk menontonnya/nggak. Faktor pendorong gue saat membeli film ini adalah sang aktris yang udah ga diragukan lagi penampilannya. Kim Jeong-eun (pernah main di Lovers in Paris, Princess Lulu, All About Eve, Blossom Again, dan Marrying the Mafia) berperan sebagai Hyun-joo, seorang pekerja dari departemen kesehatan. Hyun-joo bertugas untuk memberi penyuluhan tentang pentingnya memiliki keluarga kecil. Tugas ini diembannya karena pada tahun 1970-an (film ini mengambil setting tahun 70an), angka kelahiran di Korea tinggi sekali sementara tingkat pertumbuhan ekonomi masih rendah. Akibatnya, banyak desa-desa tertinggal yang penduduknya hidup miskin dengan beban anak-anak yang banyak.
Film ini terasa sangat real, karena ada unsur2 kepercayaan turun-temurun yang sama dengan di Indonesia, yaitu, ’Banyak anak, banyak rezeki’. Juga menampilkan kepolosan penduduk yang tidak tahu apa2 tentang alat kontrasepsi tanpa harus terlihat bodoh.
Pada akhirnya, kompleksitas tradisi, profesionalisme, dan mahalnya sebuah janji serta komitmen, ikut menjadi masalah yang diangkat dalam film ini.
Seperti juga program KB kita dulu yang terbilang berhasil (tapi sekarang gaungnya udah menghilang...), Korea pun berhasil menekan angka kelahiran penduduknya. Malah sekarang, ketika mereka sudah maju pesat, program itu berubah haluan menjadi program meningkatkan angka kelahiran, karena penduduk usia produktif untuk masa depan di Korea semakin sedikit. Hmmph... banyak anak salah... sedikit juga salah...
Hyun-joo yang belum pernah menikah, menjadi penyuluh di sebuah desa Yongdu yang miskin. Penduduk setempat awalnya tidak bisa menerima Hyun-joo dan doktrinnya untuk menurunkan angka kelahiran dengan menggunakan alat kontrasepsi demi kehidupan yang lebih layak. Tetapi berkat keuletannya, satu persatu penduduk desa mulai mau mendengarkannya. Dibantu dengan seorang penduduk bernama Suk-gu (diperankan oleh Lee Beom-soo), mereka menggalakkan program “0% Birth Rate Project“ sebagai salah satu pilot project (proyek uji coba) yang langsung diawasi oleh presiden.
Film ini terasa sangat real, karena ada unsur2 kepercayaan turun-temurun yang sama dengan di Indonesia, yaitu, ’Banyak anak, banyak rezeki’. Juga menampilkan kepolosan penduduk yang tidak tahu apa2 tentang alat kontrasepsi tanpa harus terlihat bodoh.
Pada akhirnya, kompleksitas tradisi, profesionalisme, dan mahalnya sebuah janji serta komitmen, ikut menjadi masalah yang diangkat dalam film ini.
Seperti juga program KB kita dulu yang terbilang berhasil (tapi sekarang gaungnya udah menghilang...), Korea pun berhasil menekan angka kelahiran penduduknya. Malah sekarang, ketika mereka sudah maju pesat, program itu berubah haluan menjadi program meningkatkan angka kelahiran, karena penduduk usia produktif untuk masa depan di Korea semakin sedikit. Hmmph... banyak anak salah... sedikit juga salah...
2 comments:
gomawo chingu..
gw langsung beli dvd-nya setelah baca previewnya dari blog lu yg lama. alasannya sih, yg pertama "Kim Jung Eun" hehe.. trus yg kedua, jalan ceritanya yg menarik.. misi sex control. lucu betol.. apalagi pas liat reaksi masyarakat pas make kontrasepsi. kocak..
cuman kekurangannya, menurut gw, gambarnya terlalu bagus untuk setting tahun 70an. maunya dibikin agak jadul dikit. kayak the classic tuh..
hehehe... sama2 yaa... seneng deh kalo blog gue bisa membantu milih film2 korea yang oke.. hehe..
betool! setting-nya kurang jadul ya, jadi feeling-nya kurang dapet..
tapi, gue sih kagum sama ide ceritanya! sederhana tapi kena! hehe..
Post a Comment